Buku-buku Komunitas Bambu mengekspresikan misi penerbitannya untuk menolong masyarakat Indonesia memahami sejarah dengan lebih baik. Hal ini bertalian dengan waktu berdirinya pada 1998, segera setelah rezim otoriter Soeharto jatuh. Komunitas Bambu percaya bahwa kekuasaan Orde Baru didirikan Soeharto dengan memanipulasi dan mendistorsi sejarah, sebab itu seharusnya mengangkat dan memperlihatkan kebenaran sejarah adalah prioritas gerakan reformasi Indonesia. Berlatarbelakang itulah di tengah dunia penerbitan yang sangat komersial, Komunitas Bambu berkhidmat menyediakan bagi kaum terpelajar dan pembaca umum buku-buku sejarah yang tidak dipikirkan dan disentuh bahkan yang sengaja digelapkan. Meskipun hal ini membuat Komunitas Bambu dikenal sebagai penerbit di luar keumuman, tetapi banyak mendapat liputan media massa dan memilik tempat khusus di hati pembaca Indonesia karena kualitas pilihan tema-tema buku sejarah yang diterbitkan. Komunitas Bambu pun ditahbiskan menjadi salah satu dari sedikit penerbit buku-buku sejarah di Indonesia. Sampai saat ini Komunitas Bambu telah menerbitkan lebih 250 judul buku. Tema sejarah yang digarap meliputi seputar pembunuhan massal seiring bangkitnya Orde Baru dari narasi para korban yang tidak diperdengarkan, minoritas Cina di Indonesia yang dikambinghitamkan, sejarah perempuan dan seksualitas, sejarah film, sejarah busana, sejarah laut dan kepulauan Indonesia, sejarah kota-kota dan daerah-daerah di Indonesia dengan keragaman kebudayaan serta masyarakatnya, sejarah Islam dan fenomena jihadisme, biografi tokoh-tokoh sejarah Indonesia yang mengalami pembunuhan karakter dan telaah karya klasik mereka. Termasuk juga buku fiksi, seperti novel, kumpulan cerpen dan puisi serta terjemahan buku-buku sejarah dari penulis asing, terutama yang membantu mengembangkan pengetahuan sejarah Indonesia dan tidak tersedia bagi pembaca Indonesia.

The books of Komunitas Bambu express the publisher’s mission to help Indonesian people to better understand history. This goes back to the moment it was founded in 1998 as soon as Soeharto’s authoritarian regime collapsed. Komunitas Bambu believes that Soeharto established the New Order by manipulating and distorting history so that highlighting and exposing historical truth is a priority of the Indonesian reformation movement. With such background in the midst of very commercial publishing world, Komunitas Bambu aspires to provide history books disregarded, untouched, or even distorted, for learned and common readers alike. This makes Komunitas Bambu stand out among the crowd and draws attention from mass media while occupying a special place among readers because of the quality themes of the books selected. Today Komunitas Bambu is known as one of the few publishing houses focusing on history books in Indonesia and has published more than 250 titles. The historical themes surround the subjects of the mass murder at the emergence of the New Order based on the victims’ narrations unheard of, Chinese minority incriminated in Indonesia, history of women and sexuality, history of film, history of fashion, history of the Indonesian seas and islands, history of cities and regions in Indonesia along with their diverse cultures and peoples, history of Islam and the phenomenon of jihadism, biographies of Indonesian figures and studies over their classical works; including fiction viz novel, short stories, poetry and translation works of foreign authors, especially those who help develop Indonesian historical knowledge and whose works are not available for Indonesian readers.